Mendekatkan diri kepada Alloh SWT menggunakan Kolak

Siapa sih yang tidak kenal makanan kolak di bulan Ramadhan ini. Memasuki hari ke-8 di bulan yang penuh berkah ini tahukah anda apa makna di balik makanan kolak yang identik dengan makanan untuk berbuka puasa itu ?

Kebetulan suatu hari mengikuti pengajian ahad enjang alias pengajian ahad pagi di sebuah kampus di Jogja. Audien saat itu sebagian besar adalah warga kampung sekitar kampus dan sebagian besar orang tua sehingga banyak filosofi jawa yang digunakan untuk menjelaskan masalah agama. Oleh sang ustadz dijelaskan bahwa kolak awal mulanya pada fase penyebaran Islam di tanah Jawa digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam

Nama Kolak pada hakikatnya berasal dari nama Khalik yang artinya Pencipta langit dan bumi Tuhan semesta alam Alloh SWT.  Apa kaitannya kolak dan Khalik ? Ulama pada masa itu memang banyak menggunakan istilah-istilah yang mudah dimengeti dengan harapan ajaran Islam mudah dipahami oleh masyarakat.

Menggunakan kolak untuk media mendekatkan dengan sang Pencipta adalah sebuah perumpamaan. Untuk membuat kolak saat itu bahan yang digunakan adalah tela pendem alias ubi dan pisang kepok. Tela pendem ( ketela yang ditanam atau dikubur ) dan pisang kepok( pisang kapok ). Penjelasannya adalah kita harus mengubur dalam-dalam kesalahan yang kita perbuat dan kita harus tobat atau kapok dan tidak mengulangi perbuatan buruk tersebut alias tobat nasuha sehingga kita bisa mendekatkan diri kita kepada sang Khalik yang diumpamakan tela pendem dan pisang kapok yang dicampur dengan bahan-bahan lain sehingga menjadi kolak.

Hmmm …..enak juga makan kolak ya dan ternyata ada makna dibalik makanan itu. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita bisa menjadi orang-orang yang dekat dengan sang Khalik di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini..

Mengusung Perubahan Menggapai Kemenangan

Semenjak diluncurkannya blog ini mungkin bagi anda yang menyimak dan mengikuti perkembangannya ada sedikit pertanyaan yang terbersit di benak Saudara, apa maunya sih blog ini, ada perawat menulis tulisan yang terkadang terkesan mempunyai pemikiran ekstrim terkadang sedikit nyeleneh, mungkin juga aneh-aneh, kadang berbicara tentang hal yang baik-baik, kadang tulisan yang muncul malah terkesan “menjelekan diri sendiri”. Sampai ada komentar yang bernada sedih misalnya saat tulisan “perawat terjebak budaya pembantu”, “perawat yang belum merdeka” dan sebagainya.

Continue reading “Mengusung Perubahan Menggapai Kemenangan”