Sepenggal Cerita Kelulusan Anak SLTA

DSC02742

Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja inyong dikejutkan oleh konvoi anak muda berseragam putih abu-abu, melintas mendahului motor butut inyong dengan suara menderu dengan baju dan celana yang disemprot dengan cat pilox sampai belepotan tidak karuan bahkan rambut tidak luput terkena semprotan cat.

Mungkin terlintas dalam pikiran mereka ekspresi kesenangan yang luar biasa bisa lulus dalam ujian nasional, atau bahkan tidak luluspun sepertinya mereka rela untuk melakukan ritual tahunan yang telah menjadi tradisi mengikuti jejak pendahulu mereka…

Siapa sih yang tidak gembira bila dinyatakan lulus ujian nasional yang menjadi momok selama mereka sekolah, dan sepertinya sah-sah saja bila mereka mengekspresikan kegembiraan menyambut berita kelulusan mereka. Namun bila dengan berhura-hura, berbuat yang mubazir seperti main semprot cat dan mencoret-coret baju seragam inyong tidak setuju.

Gambaran di atas membuat inyong hampir berpandangan bahwa semua anak SLTA yang lulus mengekspresikan kegembiraan kelulusan mereka dengan cara seperti gambaran di awal tulisan ini. Namun gambaran inyong tentang perilaku anak SLTA yang sempat dilakukan generalisir oleh inyong bahwa perilaku mereka sama saja, dan ternyata pandangan inyong keliru.. setidaknya karena adanya kejadian berikut …

Tadi sore pintu rumah inyong diketuk dan terdengar salam dari luar, suara seorang pemuda.

“Assalamualaikum “…

Pemuda tersebut mencari Bapak, dan membawa sebuah tas plastik hitam, entah apa isinya. Setelah dipersilahkan masuk anak muda tersebut kemudian duduk di ruang tamu.

Karena Bapak saat itu sedang keluar, sehingga anak muda itu ditemui oleh Ibu. Tidak lama terdengar sayup-sayup pembicaraaan di ruang tamu, kemudian anak muda itu pamit untuk pulang.

Setelah anak muda itu pulang, Ibu masuk ke dalam rumah sambil membawa tas plastik warna hitam. Kemudian menceritakan bahwa anak muda tadi, sebut saja namanya Andi (bukan nama sebenarnya) sebelumnya pernah bernadar bahwa bila dirinya dinyatakan lulus SLTA dia akan membelikan Al Quran untuk Madrasah tempat anak-anak mengaji.

alquran

Subhanalloh.. saat itu hati kecilku trenyuh mendengar cerita Ibu..

Ternyata masih ada anak baru lulus SLTA yang mempunyai cara bersyukur dan menyikapi kegembiraan karena lulus ujian dengan cara yang positif.

Memang kalau dilihat dari betuk barangnya berapa sih harga sebuah Al Quran, namun bila dilihat dari makna sebuah pemberian itu ternyata tersirat makna yang lebih dalam. Apalagi anak muda itu adalah anak dari keluarga yang tak mampu, Ibunya sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit. Untuk membantu keluarganya anak muda ini bekerja menjadi pengangkut sampah yang keliling menggunakan gerobak berjalan dari rumah-kerumah menawarkan jasa pengambilan sampah dengan imbalan ala kadarnya. Saya yakin Al Quran tersebut adalah dibeli dari hasil cucuran keringatnya selama ini.

Berdasarkan kejadian ini, anak muda tersebut telah memberikan pelajaran kepada inyong bahwa ternyata kita harus banyak bersyukur, karena banyak sekali ni’mat yang telah diberikan Alloh kepada kita. Dengan segala keterbatasannya anak muda tadi menyampaikan rasa syukurnya, bahkan dengan cara yang tak pernah terlintas di kepala inyong. Semoga amalmu diterima dan tercapai apa yang menjadi cita-citamu anak muda …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s